Pengikut

Sabtu, 20 Juli 2013

Masalalu ada bukan untuk dilupakan, tapi untuk disimpan, walaupun itu menyakitkan dan jadikan pelajaran untuk masa depan.

Kamis, 18 Juli 2013

Ada yang tetap nunggu walau tahu kautak akan pulang. Ada yang tetap menanti walau tahu kautak akan kembali.

Selasa, 16 Juli 2013

Benci ku sangka sayang

masih membasah luka yang dulu pernah kau cipta ..
kau sayat kembali diatas derita lama ..
tak pernah menjadi impian dan hitam bukanlah harapan ..
mengering air mata mengenang percintaan yang kini tinggal di aquan ..
masih segar di ingatan kenangan kita bersama ..
cinta yang telah berlalu kusimpan jadi sejarah ..
biarlah ku jalani lara ..
biarlah kan kutelan duka  ..
semoga kau mengerti tak pernah kurestui pemergian dirimu ..
sungguh menyayat hati ..
benar kata punjangga selasih kusangka mayang-mayang kusangka kan daun selada ..
orang benci ku sangka sayang namun diri tak merasa tetapi apakan daya ..
kenang-kenanglah aku sayang rinduilah aku dalam ingatan mu ..
yang telah tinggalkan ku slama ini jauh mengejar mimpi yang tiada pasti ..
biar hujan datang berturun takkan tawar rasa lautan cinta ..
kuhayalkan kasih mu mengekal kan rasa kira nya gerimis mu tawarkan lautan ..

by : sonia

Lewat Mata Hati

Andaikan kau tau harapan yang saat ini masih terselip direlung-relung jiwaku ..
teromba-ambing membelegu menjadi satu ..
rindu yang tersimpan rapat yang tak terungkap hingga kini ..
menghancurkan benih-benih cinta yang tak pasti ..
hanya alunan-alunan lagu yang menemani jiwa yang sepi.
tak perlu beribu bahasa  menjelaskan berapa rapuhnya hati ini ..
jika cinta hanya diabaikan bagaikan angin yang berlalu ..
tak ingin tau dan tak mau lagi tau ..
kisah percintaan dimasa lalu ..
lewat mata hati melihat sejuta kenangan indah ..
yang terkubur dalam sanubari ku ..
kekal dan abadi ,tanpa suatu balasan yang tak pasti ..
oh mata hati ,apakah kau itu ?
mempelihatkan jiwa yang hidup seolah-olah mati ..
memperlihatkan cinta yang berubah menjadi misteri ..

by : rika karmila 




Aku berjuang sendirian untuk mencintaimu, mengapa sampai sekarang kautak merasakan itu?

Terhimpit Rindu

Apa lagi yang harus mulutku ucap, ketika potongan kata-kata rindu tak berhasil sampai padamu dan begitu saja menguap? Kuharap rindu tak perlu mengirim ribuan isyarat—aku khawatir tak kauterjemahkan dengan tepat. Kuharap kau sekarang lebih perasa, tanpa harus aku bilang aku cinta, kau terlebih dahulu mengetahuinya. Kuharap kau tak keberatan mencintaiku yang tak pintar terus terang, sebab ternyata cinta masih bisa malu-malu. Meski telah kita gulirkan bola waktu hingga ke titik dimana kita terus menyatu.

Sementara rinduku tak begitu saja meninggalkanku meski telah kutuliskan melalui semesta. Inginku membuatmu tersadar, bahwa sesungguhnya rinduku tak bisa memudar. Inginku membuatmu melihat, bahwa rindu yang tersimpan kini telah dalam terpahat. Inginku membuatmu merasa, bahwa rinduku ini bukanlah sekedar kata. Jika kulukiskan, maka dalam balutan berbagai warna, cita, dan rasa, tak mampu jua menerjemahkan selaksa rindu yang kupunya.

Kurajut jembatan harap, terbentang dari dada ke dada, dari senyum ke senyum, dari aku ke kau. Pada setiap pertambahan jaraknya, kutahu tak perlu ada ragu, apalagi cemburu. Sebab kau selalu tahu caranya yakinkan aku, bahwa kita bukan hanya sementara. Kau mengucap janji hanya untuk ditepati. Aku menanti karena hanya kau yang di dalam hati. Ajarkan aku caranya menahan diri, agar isi kepala masih mampu melawan jutaan debar yang makin menyebar.

Entah mengapa hati ini tak mampu jua menahan luapan deru dari rindu. Sementara kau seakan sejauh jaraknya bintang. Tanpa aku sadar, aku meletakkan harap itu padamu, bintangku. Andai bisa kuberi semua yang bisa kuberi, maka akan kuminta satu saja hari sebagai ganti. Aku ingin jarak itu merapat, aku dan kamu mendekat. Kurajut dan kujaga asa itu, tak sabar menantikan satu hari itu. Dimana aku dan kamu pada akhirnya bersisian, saling menggenggam tangan.

Biar saja jarak membentang, asalkan ego kita tak saling menentang. Biar saja sepasang matamu tak bisa kupandang, asalkan rindu ini terus bertandang. Kau cahaya di ujung jalan gelap. Tak ada pilihan lain selain padamu aku berharap. Aku udara dalam lingkar pelukmu. Meski tak nyata kausentuh aku, kau tahu aku tak sudi pergi dari situ.

Pada akhirnya, kita juga tahu bahwa tak penting sejauh apa terpisah, asal kita tak saling mencipta resah.

oleh : dwitasari

Seminggu Setelah Kepergianmu

Seminggu Setelah Kepergianmu

Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi pelukanmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. Tapi... entah mengapa aku seperti merasa kehilangan, tanpa pernah tahu apa yang telah hilang. Aku seperti mencari, tanpa tahu apa yang telah kutemukan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa berhenti mempercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang lebih baik jika aku pernah memiliki yang terbaik? Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka, sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa dan aku terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?

Jam berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, dan mungkin saja dengan dia. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku?

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terimakasih.
Dengan luka seperti ini.
Dengan rasa sakit sedalam ini.
Aku jadi tambah sering menulis.
Lebih banyak dari biasanya.
Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal.
Sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang bercerita tentangmu.




oleh : dwitasari

Senin, 15 Juli 2013

MALAM SUNYI UNTUKMU SAYANG :')

pernah kah kau merasa takut kehilangan ku ??
pernah kah kau merindukan ku ??
aku disini sayang :')
menanti kan keajaiban ,bahwa semua akan kembali seperti dulu ..
saat kau mencintaiku :')

by : rika karmila

baru bisa move on pas sudah jauh